Renungan Sahabat
Untukmu
sahabatku,
Cobalah
engkau pahami diriku kawan..
Engkau
yang lemah, tak berdaya, galau atau apalah kekukaranganmu tidak menjadikanku
acuh tak acuh terhadap ikatan kita..
Pernahkah
engkau sedetik saja meluangkan waktumu untuk mengingatku ?
Tentang
kita, kebersamaan kita dan segala kebahagiaan yang telah kita raih..
Akupun
sadar hidup yang baik adalah rela berbagi dan ikhlas memberi..
Namun
kawan, akupun manusia. Manusia yang turut juga mendamba sebuah aktualisasi,
pengakuan..
Kawan,
ingatkah ketika engkau bersedih saat ditinggal oleh kekasihmu dulu ? akulah
orang pertama yang mengatakan, “dia bukan yang terbaik untukmu, Allah SWT akan
menggantikannya dengan yang lebih baik lagi nanti. Semangat Kawan !” ingatkah
engkau atas hal itu ?
Ingatkah
ketika engkau lupa mengerjakan tugas entah itu dalam pelajaran maupun pekerjaan
dulu ? akulah orang pertama yang mengajukan diri untuk membantumu. Dengan
ikhlas serta senyum setia yang selaras..
Namun,
sadarkah engkau ketika kebahagiaan menghampirimu karena hal lain atau seseorang
di luar sana yang seolah mengalihkan perhatianmu seutuhnya, hal itu tidak
pernah engkau bagi padaku. Kau katakan, “ mau tau aja, Cuma pacar gw doang yang
boleh tau. Wee :P”. Tahukah kawan, itu menyakitkan..
Kala
kau sedang bersenda gurau bersamanya, merenda kisah cinta yang nyaman bagimu,
seolah itu adalah hal yang menjadikan kualitas hubungan kita renggang dan
menjauh…
Untuk
kesekian kalinya engkau kembali berkoar, “ lo udah tau kan tanpa gw kasih tau
juga ?” dan itu lebih menyakitkan lagi kawan…
Aku
hanya menginginkan pengakuan, sebagai pendamping setiamu. Kawan lama dalam
gelisah tiada tara, kegalauan tanpa tepi dan resah tak berakhir, Ya, itu aku.
Sahabat setiamu…
Aku
pernah berpikir sejenak tentang apa yang sebetulnya tidak layak untuk aku
pikirkan…
Ingin
tahukah engkau ? “untuk apa, lo aja ga pernah bagi-bagi semuanya sama gw.”
Kawan, sungguh pernyataan seperti itu tidak pernah sehurufpun tertuang dalam
kamusku, kamus seorang sahabat…
Terkadang
aku pernah berpikir bahwa apakah mungkin selama ini aku hanya diperbudak
olehmu saja ?
Dalam
kegelisahan, kesedihan, duka akulah orang pertama bagimu. Namun pada kesempatan
yang lain seperti moment kebahagiaan misalnya, kenapa aku selalu jadi yang
terakhir ? mengapa selalu dia (kekasih) orang pertama bagi setiap informasi
indah yang terlontar dari indera wicaramu ? apakah engkau mengenalnya sebelumku
? meskipun iya, mengapa sekarang engkau seolah campakan aku, campakan sahabatmu
ini ?
Ketika
keadaan membawamu pada kondisi buruk, seolah aku menjadi pelampiasan segala
emosi dan pencurahan atas kesedihan tersebut. Mungkin aku pernah berpikir
seperti ini, “dulu waktu lo seneng, gw ga pernah lo anggap. Nah sekarang aja
giliran kaya gini, baru lo datang lg k gw. Kemana aja woy ?” namun sekali lagi
aku selalu menempatkan diriku sebagai sahabatmu, seseorang yang semestinya
menjadi salah satu yang terbaik untukmu. Lalu bisikan itupun seolah tak lagi
menghinggapi..
Sekarang
apakah engkau yakin tentang “persahabatan” kita ? yang tak pernah termakan usia
dan kondisi selama ini ? sadarlah kawan, ingatlah kawan, ingatlah aku sahabatmu…
Akupun
akan selalu ada bagimu, meski sesungguhnya hatiku sakit atas sikapmu, namun
bagiku kau tetap yang terbaik...
Tahukah
kawan ? setiap malam ku panjatkan do’a atas keberkahan segala hidupmu yang
mungkin engkau tak meniru apa yang semisalnya kulakukan padamu ini…
Namun
aku hanya ingin menjadi yang terbaik dalam hidupmu, dalam kegalauanmu, dalam
keluh kesamu, dalam duka cita, tawa, senyum bahagia, derita dan lain
sebagainya. Kini, cobalah engkau minimal menyalamiku saat bertemu. Itu begitu
sangat berarti bagiku kawan…
Hidupmu
adalah hidupku. Namun hidupku adalah upayaku untuk selalu menjadi yang terbaik
bagimu di saat ini dan selamanya…
Kau
segalanya bagiku.. sahabat.. :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar