Rabu, 03 Oktober 2012

Galau itu?

Galau  Itu ?
   
“Resah
 berkepanjangan bukanlah
akhir dari perjuangan. Pola rasa yang
menguras hati di akhir-akhir ini hanyalah
persepsi sesaat dalam pikiran yang mengalihkan
afirmasi diri Anda untuk dapat berbuat lebih kedepan.
Pahamilah kegalauan, sebelum Anda terjebak pada pemikiran
salah olehnya. Kenalilah kegalauan sebelum Anda kaku sebab buta pengetahuan dan tertinggal karenanya. Tidak ada telaga galau. Yang ada ialah galaksi kegalauan. Sebab galau tidak begitu sempit dan sederhana seperti apa yang Anda bayangkan. Inilah dunia galau,wahana
penentu kejelasan bagi setiap keraguan
yang semakin menggosok nurani dan pikiran.”
   
Galau. Akronim yang sesuai untuk macam celotehan unik, seperti Gelisah Antara Lanjut Atau Udahan , GA lAku - lakU, GAgal LAmar Uh, dan lain sebagainya.  Catatan, saya tidak melawak. Hanya melucu tentang hal yang tidak perlu Anda tertawai. Namun jika Anda mau tertawa, silahkan tertawalah. Tapi untuk apa? Bukankah ini tidak lucu? Hehe. Cukup, kita tidak perlu berdebat konyol mengenai akronim kegalauan tadi. Lebih baik Anda membuka mata dan menutup mulut. Untuk apa? Sebab akhir-akhir ini regenerasi lalat merajalela, bisa saja hewan menjijikkan itu masuk ke mulut Anda. So, bukalah mata Anda untuk menelaah tulisan ini, bukan hanya sekadar memandangi lalat. Ada apa dengan lalat? Sudahlah, soal lalat kita bahas lain waktu. Baiklah, apakah Anda seorang lalat? Eh, maksud saya apakah Anda seorang remaja? Mungkin istilah galau sudah sering Anda temui di alur dan realita budaya generasi muda saat ini. Entah mengapa istilah galau yang hinggap sebelum ungkapan alay menyerebak di pergaulan remaja kini, seolah menjadi istilah wajib yang mesti di aplikasikan –baik definisi maupun filosofi- sesuai dengan kadar interpretasi yang telah Anda kembangkan selama ini.
    Fakta uniknya, mereka yang selalu berkoar tentang istilah galau ternyata belum paham tentang hakikat galau sebenarnya. Right? Ketika mendengar dan membaca istilah galau, apa yang tiba-tiba terbersit di pikiran Anda? apakah yang ada di pikiran adalah moment ketika Anda ditolak mentah-mentah oleh seseorang? “Tidak, saya tidak ditolak. Hanya sekedar diabaikan.” Sadarlah kawan, hal itu jauh lebih menyakitkan. Bila perkataan ini membuat Anda terkenang mengenai kejadian masa lalu yang memukul jiwa Anda di kala itu, mohon dimaafkan. Saya hanya menguji kejujuran Anda. Dan itulah mengapa buku ini sekarang ada di genggaman Anda. untuk menyindir? Jelas bukan. Tentunya untuk menguji kejujuran.  Bukankah Anda ingin menjadi pribadi yang baik karena jujur? Ya!  Kepastian sebagian besar dari Anda akan beranggapan bahwa galau selalu yang ihwal berkaitan dengan ditinggal kekasih, ditolak seseorang, atau bahkan diabaikan yang pedih deritanya lebih menguras jiwa ketimbang sebuah penolakan. Mungkin ada pendapat lain yang lebih luas, namun tidak begitu luar biasa cakupannya dengan apa yang akan Anda temukan di tulisan ini mengenai ruang lingkup kegalauan yang sesungguhnya.
    Berdasarkan terjemahan makna di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), istilah galau memiliki arti ber-ramai-ramai, tidak karuan, ber-sama-sama. Namun begitu unik jika kita menggunakan parameter definisi galau yang ada di pikiran Anda saat ini dengan filosofi galau menurut aturan kebahasaan tadi. Istilah galau rupanya telah berubah menjadi definisi yang tidak sebenarnya dan sedikit lebay (alay yang berlebihan) serta telah mengalami pergeseran makna (peyorasi) yang seolah menjadi ambigu ketika kita memikirkan suatu istilah yang tepat untuk menyimpulkannya, kegalauan.
    Galau kini menjadi istilah yang begitu sering dipakai oleh remaja dan manusia tua yang mengaku remaja untuk menyiratkan setiap kepedihan yang sedang dihadapi dan pula diratapi. Ditinggal kekasih, diabaikan, nilai ulangan buruk, seolah dapat disatukan menjadi suatu istilah untuk mewakilkannya, dan itu adalah kegalauan. Ternyata galau memiliki trayek yang cakupannya lebih luas ketimbang angkutan umum. Amazing!
    Galau adalah kondisi hati yang memaksa jiwa kita untuk lebih sering menguras kesabaran dan menitikkan air mata dengan alasan apapun yang kita anggap penuh dengan ketidakadilan. Sadarkah ketika nilai ulangan Anda buruk dan Anda lebih dominan untuk mengatakannya sebagai kegalauan bukannya penyesalan? Sadarkah ketika Anda ditinggal kekasih, Anda menuliskan kata galau di jejaring sosial? Mengapa tidak kata penghianatan? Sadarkah ketika orang yang Anda cintai meninggalkan bumi ini untuk selama-selamanya dan Anda berpikir itu kegalauan bukannya kesedihan? Sadarkah ketika Anda dicampakkan dan Anda lebih tertarik menyatakan bahwa itu adalah kegalauan? Bukankah itu kepantasan bagi Anda? hehe saya cuma becanda.  Apakah Anda menganggap setiap hal yang menyudutkan kebahagiaan Anda adalah suatu kegalauan? Sadarlah dengan sadar! Mungkin saja di waktu sepuluh atau dua puluh tahun kedepan kita dapati bahwa seluruh perasaan negatif mereka katakan sebagai kegalauan. sadarlah!
    Galau adalah istilah abstrak yang meniru rupa dari pola rasa yang sebelumnya pernah ada. Semoga Anda dapat memahaminya. Mengapa Anda meyakini hal yang tidak pernah ada, hal yang gaib? Galau hanyalah ungkapan sederhana yang bodohnya kita, selama ini dialah teman setia yang ternyata dapat menghancurkan kebahagiaan dalam hidup. Apakah berkawan dengan galau itu sebuah kesalahan? TIDAK. Selama kita dapat menjamin bahwa galau tidak akan pernah memudarkan keyakinan kita untuk selalu berbuat benar dan memastikan bahwa itu hanyalah tragedi sesaat yang sukar untuk miang kembali.

    Takut galau? Jangan hidup! Takut hidup? Makanya jangan galau!

Istilah galau ternyata tidak serumit materi integral di fisika. Anda hanya perlu peka dengan apa yang Anda rasakan     dan yakini itu tidak adil serta menyimpannya pada ruang terdalam pikiran. YA. Galau yang Anda pahami selama ini hanya terjadi dalam pikiran.
Pernahkah Anda merasa galau?
Dimana? Hanya dalam pikiran bukan?
Tidak, tapi hati pun merasakan.
Bukankah perasaan dikendalikan oleh pikiran?
Bukankah Anda hidup di kenyataan?
Mengapa mesti meyakini keburukan yang ada di pikiran? Sadarlah, itu tidak terjadi di kenyataan!
    Inilah budaya bangsa yang selalu terulang hingga Zaman Kapal besi bulan (zaman modern) seperti saat ini. Anda terlalu meyakini apa yang buruk dalam pikiran dan memposisikannya sebagai kenyataan tanpa dapat membedakan antara nyata dan asa. Analogi sederhana, ketika ada seorang pria yang mengirimkan pesan singkat kepada seorang wanita idamannya melalui handphone, dan pada saat  yang bersamaan wanita yang dikirimi pesan singkat tersebut sedang mengendarai mobil untuk suatu acara yang mendesak dirinya untuk hadir lebih cepat dibandingkan dengan waktu yang biasa dicapai oleh pengemudi lain pada umumnya. Dapatkah Anda membayangkan tentang apa yang pria itu rasakan dan alami setelah hal tersebut? Inilah ilustrasinya:
“Hay. Nanti malam kita jadi dinner kan?” Pesan yang dikirimkan pria.
“Y.” Pesan balasan wanita dengan susah payah sebab sedang mengemudi kendaraan.
“Hey.. singkat banget balesnya, udah ga peduli hah?” hardik si pria dengan wajah seolah bebas dosa tanpa mengetahui kondisi sang wanita saat itu.
“Ini orang kenapa sih? Kerasukan jin mana?” ungkapan batin sang wanita di dalam hatinya atas peristiwa irasional tersebut.
Sudah jelas bukan, mungkin pria berpikiran bahwa saat itu sang wanita sedang bersama pria lain dan mengabaikan pesan darinya. Namun faktanya berkata lain, sang wanita sedang berada di suatu kondisi yang mendesak dirinya untuk tidak dapat berfokus lebih kepada apapun selain kepentingannya dan keselamatannya dalam berkendara saat itu. So, apakah yang salah atas fenomena kegalauan yang kian hari semakin sering melumat mangsanya yang tidak berdosa selama ini? Yaitu pola pikir kita atas pandangan terhadap hakikat kegalauan yang sebenarnya. Kembali ditekankan bahwa kegalauan tidak pernah ada di kenyataan. Namun hanya terjadi di dalam pikiran yang tidak pernah timbul di alam nyata,  di permukaan bumi dimana kita berpijak saat ini. Tentang segala keluh kesa yang selama ini Anda anggap sebagai kegalauan, katakanlah kondisi mereka menurut kenyataannya masing-masing. Jika Anda jatuh dari sepeda, katakanlah itu sebagai rasa sakit bukan sebagai kegalauan. Jika sidia selingkuh dengan pribadi lain, yakinlah bahwa itu adalah rupa dari pengkhianatan dan bukan kegalauan. Ketika nilai ulangan Anda buruk, jangan Anda posisikan itu sebagai kegalauan, namun anggap bahwa hal itu adalah ganjaran yang sesuai dengan apa yang Anda upayakan selama ini.
“Saya sudah paham tentang definisi kegalauan yang sebenarnya, namun seperti apa langkah bijak untuk dapat mengatasi fenomena-fenomena yang dulu saya anggap sebagai kegalauan dan menjadikannya sebagai pematik semangat untuk dapat berbuat lebih atas rangkaian impian, yang selama ini saya inginkan agar lekas menjadikannya sebagai kenyataan?”
Mungkin itulah yang ada di benak Anda ketika berada di bagian akhir tulisan ini. Ingin tahu jawabannya? Setelah yang mau lewat berikut ini. Jama’aaaaah, oh jama’ah. Lah kenapa nyambung  ke acaranya Ustadz ngondek? Ups. Keceplosan. Hehehe. Itulah mengapa materi di buku ini dicipta secara terpisah. Seperti mainan? Maksudnya bersambung dan berkaitan antar materinya. Dengan tujuan agar Anda penasaran untuk dapat menemukan apa yang Anda inginkan, apa yang Anda butuhkan, dan bagaimana langkah Anda untuk meraih kunci permasalahan yang Anda hadapi sendiri melalui kehadiran buku ini.
Kontak Nurani,
Setiap kepedihan selalu penuh derita..
Benarkah? Bukankah dulu mereka yang sukses pun mengalami hal yang sama seperti Anda?
Tidak. Mereka orang-orang yang diberkati sang pencipta dengan ketahanan jiwa yang kuat. Bukan seperti aku..
Apakah Anda tidak merasa sebagai ciptaan Allah SWT? Bukankah setiap insan diciptakan secara sama?
Betul. Namun aku belum mengetahui hal yang tersirat tentang kepedihan yang kini menggosok hati dan pikiran..
Bukalah hati Anda untuk merasa bukan hanya peka pada mata! Apakah Anda menyebutnya sebagai kegalauan? Bukankah kita telah sepakat bahwa itu hanya suatu fenomena buruk dalam pikiran?
Saya butuh keyakinan untuk paham..
Pahamilah setiap kekuasaan Allah dengan rasa syukur yang menyeluruh, sehingga Anda dapat menerka kekuasaan lain yang dapat membuka pintu kecerdasan Anda untuk dapat yakin dalam memahaminnya..
Apakah itu cara yang efektif?
Bukankah Anda percaya terhadap kekuasaan Sang Maha Pencipta? Lantas mengapa Anda mengabaikannya? Sadarlah!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar