Jumat, 20 Juli 2012

Renungan Sahabat


Renungan Sahabat

Untukmu sahabatku,

Cobalah engkau pahami diriku kawan..

Engkau yang lemah, tak berdaya, galau atau apalah kekukaranganmu tidak menjadikanku acuh tak acuh terhadap ikatan kita..

Pernahkah engkau sedetik saja meluangkan waktumu untuk mengingatku ?
Tentang kita, kebersamaan kita dan segala kebahagiaan yang telah kita raih..

Akupun sadar hidup yang baik adalah rela berbagi dan ikhlas memberi..

Namun kawan, akupun manusia. Manusia yang turut juga mendamba sebuah aktualisasi, pengakuan..

Kawan, ingatkah ketika engkau bersedih saat ditinggal oleh kekasihmu dulu ? akulah orang pertama yang mengatakan, “dia bukan yang terbaik untukmu, Allah SWT akan menggantikannya dengan yang lebih baik lagi nanti. Semangat Kawan !” ingatkah engkau atas hal itu ?

Ingatkah ketika engkau lupa mengerjakan tugas entah itu dalam pelajaran maupun pekerjaan dulu ? akulah orang pertama yang mengajukan diri untuk membantumu. Dengan ikhlas serta senyum setia yang selaras..

Namun, sadarkah engkau ketika kebahagiaan menghampirimu karena hal lain atau seseorang di luar sana yang seolah mengalihkan perhatianmu seutuhnya, hal itu tidak pernah engkau bagi padaku. Kau katakan, “ mau tau aja, Cuma pacar gw doang yang boleh tau. Wee :P”. Tahukah kawan, itu menyakitkan..

Kala kau sedang bersenda gurau bersamanya, merenda kisah cinta yang nyaman bagimu, seolah itu adalah hal yang menjadikan kualitas hubungan kita renggang dan menjauh…

Untuk kesekian kalinya engkau kembali berkoar, “ lo udah tau kan tanpa gw kasih tau juga ?” dan itu lebih menyakitkan lagi kawan…

Aku hanya menginginkan pengakuan, sebagai pendamping setiamu. Kawan lama dalam gelisah tiada tara, kegalauan tanpa tepi dan resah tak berakhir, Ya, itu aku. Sahabat setiamu…

Aku pernah berpikir sejenak tentang apa yang sebetulnya tidak layak untuk aku pikirkan…
Ingin tahukah engkau ? “untuk apa, lo aja ga pernah bagi-bagi semuanya sama gw.” Kawan, sungguh pernyataan seperti itu tidak pernah sehurufpun tertuang dalam kamusku, kamus seorang sahabat…

Terkadang aku pernah berpikir bahwa apakah mungkin selama ini aku hanya diperbudak olehmu saja ?

Dalam kegelisahan, kesedihan, duka akulah orang pertama bagimu. Namun pada kesempatan yang lain seperti moment kebahagiaan misalnya, kenapa aku selalu jadi yang terakhir ? mengapa selalu dia (kekasih) orang pertama bagi setiap informasi indah yang terlontar dari indera wicaramu ? apakah engkau mengenalnya sebelumku ? meskipun iya, mengapa sekarang engkau seolah campakan aku, campakan sahabatmu ini ?

Ketika keadaan membawamu pada kondisi buruk, seolah aku menjadi pelampiasan segala emosi dan pencurahan atas kesedihan tersebut. Mungkin aku pernah berpikir seperti ini, “dulu waktu lo seneng, gw ga pernah lo anggap. Nah sekarang aja giliran kaya gini, baru lo datang lg k gw. Kemana aja woy ?” namun sekali lagi aku selalu menempatkan diriku sebagai sahabatmu, seseorang yang semestinya menjadi salah satu yang terbaik untukmu. Lalu bisikan itupun seolah tak lagi menghinggapi..

Sekarang apakah engkau yakin tentang “persahabatan” kita ? yang tak pernah termakan usia dan kondisi selama ini ? sadarlah kawan, ingatlah kawan, ingatlah aku sahabatmu…

Akupun akan selalu ada bagimu, meski sesungguhnya hatiku sakit atas sikapmu, namun bagiku kau tetap yang terbaik... 

Tahukah kawan ? setiap malam ku panjatkan do’a atas keberkahan segala hidupmu yang mungkin engkau tak meniru apa yang semisalnya kulakukan padamu ini…

Namun aku hanya ingin menjadi yang terbaik dalam hidupmu, dalam kegalauanmu, dalam keluh kesamu, dalam duka cita, tawa, senyum bahagia, derita dan lain sebagainya. Kini, cobalah engkau minimal menyalamiku saat bertemu. Itu begitu sangat berarti bagiku kawan… 

Hidupmu adalah hidupku. Namun hidupku adalah upayaku untuk selalu menjadi yang terbaik bagimu di saat ini dan selamanya… 

Kau segalanya bagiku..   sahabat.. :)
 
"Sayangilah seorang sahabat dengan begitu anggun. Sebab tatkala ia pergi menjauh, meski kau masih dapat menyayangi seorang sahabat, namun itu hanyalah rupa kenangan dan bayangan semu." ~ Muhamad Fathan Mubin



Tidak ada komentar:

Posting Komentar